Mahasiswi FPTK UPI buat Inovasi Bata Ramah Gempa

07 November, 2023
51

Lima mahasiswa Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan dari Universitas Pendidikan Indonesia memperkenalkan jenis bata baru, Reforming Brick, dengan klaim ramah lingkungan dan tahan gempa. Lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa di bidang Riset Eksakta (PKM-RE), proposal riset untuk jenis bata baru ini berhasil mendapatkan pendanaan dari Kemendikbudristek. 

Inovasi bata ini dikembangkan Nurillah Yuniarti (Prodi Arsitektur) bersama timnya, yakni Deviana Fakhira (Prodi Arsitektur), Shalihah Hasyimiyyah (Prodi Arsitektur), Ikha Sholiha (Prodi Pendidikan Teknik Bangunan), serta Nadiyah Ayu Kamaliyyah (Prodi Pendidikan Tata Busana) dibawah bimbingan Dosen Ibu Nitih Indra Komala Dewi, S.Pd., M.T.


Menurut pengembang jenis bata ini, klaim bata yang ramah lingkungan dan ramah gempa muncul dari bahan campuran dan jenis bata yang menjadi dasar pengembangan Reforming Brick

"Bata ini berbentuk interlock dan merupakan jenis bata ringan dengan kain sebagai salah satu agregat campurannya" jelas Nurillah.

Bentuk interlock inilah yang menguatkan klaim Reforming Brick sebagai bata ramah gempa dengan bentuknya yang terikat satu sama lain, juga jenis bata ringan yang lebih tidak menyakiti dalam skenario terburuk bangunan yang roboh saat gempa.  Sementara, klaim ramah lingkungan dari bata ini muncul karena adanya pergantian agregat pada campuran menjadi limbah kain.

"Ide untuk melibatkan limbah kain pada penelitian kami pertama kali muncul karena banyaknya sampah kain yang kami temukan saat melakukan kegiatan pembersihan bantaran sungai, sementara menurut riset yang sudah kami lakukan belum banyak inovasi yang melibatkan sampah kain. Visi kami disini agar sampah kain ini tidak perlu sampai ke pembuangan akhir dan menumpuk sementara menunggu waktu bertahun-tahun untuk mengurai sendiri" jelasnya.

Lebih lanjut, menurutnya, pemutusan bata sebagai jenis barang yang menjadi riset timnya disebabkan simpati mereka terhadap bencana gempa di Cianjur pada tahun 2022 yang saat itu baru saja terjadi. 

"Setelah mencari tahu lebih lanjut dari berbagai sumber, banyak dari korban gempa bumi di Indonesia mengalami luka bahkan kehilangan nyawa karena tertimbun reruntuhan bangunan"lanjutnya.

Reforming Brick lahir sebagai pemecahan masalah dari concern mereka terhadap dua hal tersebut, Indonesia yang sering dilanda bencana gempa bumi dan limbah kain yang belum banyak memiliki inovasi olahan.