FPTK FPTK

Gamananta Boga 2021, Akulturasi Kuliner Nusantara Sebagai Potensi Pariwisata Di Tingkat Global: Talkshow Dan Kompetisi Nasional

Oleh: Yadi Setiadi pada 17 Jun 2021

Mahasiswa Prodi Pendidikan Tata Boga Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2018 di tengah pandemi dengan antusias dan bangga menyelenggarakan Gamananta dalam rangka Ujian Akhir Mata Kuliah Cipta Karya Boga yang diampu oleh Dra. Sudewi Yogha, M.Si., Dr. Rita Patriasih, S.Pd., M.Si dan Asep Maosul, M.Pd. Gamananta berasal dari kata gama/gamadi yang artinya pengelana dan kata ananta yang artinya tanpa batas. Gamananta dapat diartikan generasi muda sebagai pengelana yang menjelajahi kuliner nusantara (tanpa batas), sehingga berkaitan dengan tema Pelestarian Kuliner Nusantara “Siap Lestarikan Kuliner Nusantara”. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran, dan rasa cinta masyarakat terhadap kuliner nasional, menambah wawasan generasi muda mengenai perannya atas pengembangan kuliner nasional terhadap pariwisata Indonesia yang mampu bersaing secara global.

Gamananta Boga 2021 dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Juni 2021 pukul 09.00 - 13.00 WIB melalui platform Zoom Meeting, terdiri atas serangkaian acara yang dimulai dari Talkshow, menampilkan video hasil praktik mahasiswa Prodi Pendidikan Tata Boga Angkatan 2018, serta berbagai lomba, yaitu lomba food plating, food vlogger, dan lomba tiktok memasak hidangan nusantara.

Acara dibuka oleh Bapak Prof. Didi Sukyadi, MA. Selaku Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia, dan dihadiri oleh Dr. Iwa Kuntadi, M.Pd selaku  Dekan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan UPI, para Wakil Dekan FPTK, Ketua Departemen Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Ketua Prodi Pendidikan Tata Boga, seluruh dosen Prodi Pendidikan Tata Boga UPI, dosen luar Prodi Pendidikan Tata Boga di dalam UPI, serta dosen dari berbagai institusi seperti Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Medan, dll, para guru dari berbagai sekolah, alumni, mahasiswa, siswa dan masyarakat umum dari berbagai kalangan.

Acara talkshow yang menghadirkan 3 (tiga) narasumber yaitu Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A (sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Atalia Praratya, S.I.P., M.I.KOM (sebagai Duta Pasar Rakyat Jawa Barat) dan Chef Degan Septoadji (Juri Masterchef Indonesia Season 2) dimoderatori oleh Ira Yulia, S.Pd. (Alumni Prodi Pendidikan Tata Boga sekaligus Ketua Bidang Kehumasan Ikatan Alumni Pendidikan Tata Boga).

Gamananta, menampilkan Hasil Karya Praktik Mahasiswa Prodi Pendidikan Tata Boga Angkatan 2018 yang dikemas dalam video yang menarik dalam mata kuliah Cipta Karya Boga, yaitu cipta spontan, uji silang, modifikasi resep, fusion food, dan inovasi produk.



Kuliner Indonesia memiliki kekuatan yang khas. Sesuai dengan pemaparan Chef Degan bahwa “Makanan dan makan bisa mendekatkan kita dengan budaya. Makanan itu juga memiliki sejarah dan  cerita. Masakan Indonesia memiliki teknik yang sangat rumit, mempunyai bumbu-bumbu dasar yang sangat menarik”. Jika dibandingkan dengan makanan Eropa,  Kuliner Indonesia sangat kaya rempah, dan tersebar di berbagai daerah. Insan kuliner Indonesia harus bangga, harus menghargai makanan Indonesia, sehingga makanan nusantara bisa masuk ke level berikutnya. Kita sebagai insan kuliner dapat menyumbangkan perubahan positif walaupun sedikit tetapi bermakna untuk Indonesia.

Profil kuliner bagian dari sub sector unggulan kontribusi 41% terhadap PDB. Kuliner otentik Indonesia telah masuk ke dunia Internasional antara lain adalah Rendang, Sate, Soto, Nasi goreng, Gado-gado. Menparekraf Bapak Sandiaga Uno mengungkapkan bahwa “keunikan kuliner Indonesia merupakan bagian dari budaya bangsa. Kuliner Indonesia erat kaitannya dengan konsep kearifan lokal, seperti pada prosesi ritual budaya, aspek makanan juga memberi makna tersendiri. Kuliner Indonesia yang kaya rempah juga menjadi citra bangsa, selain sebagai sumber devisa rempah juga bermanfaat untuk kesehatan, daerah di Indonesia juga memiliki rempah andalan yang bervariasi dan berbeda dengan daerah lainnya. Indonesia sebagai mother of spices di mata dunia”.

Bu Atalia Praratya juga menambahkan bahwa “kuliner memiliki hubungan dengan akulturasi budaya. Kuliner asli dari Indonesia, yang berasal turun temurun, sehingga menimbulkan turun temurunnya budaya, akan tetapi bisa jadi juga ada akulturasi dari bangsa lain seperti contohnya nasi goreng yang merupakan bagian dari akulturasi budaya tiongkok.” Cita rasa harus dipertahankan  sesuai aslinya. Jawa barat harus punya icon makanan yang mampu masuk ke rancah global. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan kolaborasi, inovasi, dan sesuaikan dengan perkembangan teknologi. Pembuatan makanan yang masuk ke pasar dunia juga perlu menghadirkan makanan yang tahan lama, tanpa mengurangi cita rasa asli ke khasan makanan.

Gamananta Boga 2021 diakhiri dengan pengumuman pemenang lomba yang diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari umum, siswa Sekolah Dasar, SMP/Mts, Sekolah Menengah (SMA dan SMK), juga Mahasiswa dari 11 universitas di Indonesia, dan peluncuran buku di setiap tahunnya. E-book “Kumpulan Resep Hasil Karya Cipta Inovasi Hidangan Nusantara” karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Tata Boga Angkatan 2018 resmi diluncurkan pada event virtual ini.


Kembali

Rekognisi