FPTK FPTK

TVET RC UPI Beberkan Revolusi Blended Learning dan Pendekatan Merdeka Belajar

Oleh: Yuyun Rohayati pada 20 Dec 2020

Min.co.id, Bandung Pusat Riset Pendidikan Teknik dan Vokasi (Technical and Vocational Education and Training Research Center/TVET RC) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengumumkan hasil dari dua penelitian terbarunya yaitu "Pembelajaran Vokasi Selama dan Sesudah Pandemi Covid-19" dan "Kompetensi Guru Pendidikan Vokasi di Era Merdeka Belajar" yang berlangsung secara daring, Jumat (11/12/2020).

Kegiatan ini didukung oleh proyek Advanced Knowledge and Skills for Sustainable Growth in Indonesia (AKSI) di bawah kerjasama Kementerian Pendidikan & Kebudayaan dan Asian Development Bank (ADB).

Lahirnya Blended Learning dan Flexible Learning Delivery Iwan Kustiawan, S.Pd., M.T., Ph.D., peneliti di TVET RC, yang juga adalah dosen di Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan UPI, menegaskan, "Saat ini kita sedang mengalami sebuah revolusi pembelajaran vokasi, akibat dipicu oleh pandemi virus corona."

Iwan menguraikan, "Terjadi pergeseran pedagogi dalam pengajarannya, dari pendekatan yang sebelumnya lokal kini menjadi global, akibat intensifnya pemanfaatan teknologi yang saat ini diandalkan untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar." Ia mengatakan bahwa kini lahir lebih banyak kelas-kelas virtual dan kesempatan-kesempatan untuk belajar secara mandiri. Iwan juga mengungkapkan bahwa hasil studinya menunjukkan pergerakan tren menuju kegiatan blended learning yang menggabungkan pengalaman belajar daring dan luring.

"Di sinilah pentingnya karakteristik guru dan siswa abad ke-21 diuji di saat krisis. Model SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, and Redefinition) dan TPACK (Technological, Pedagogical, and Content Knowledge) dapat mendorong para pendidik untuk mengaplikasikan kekuatan teknologi dalam mendukung pembelajaran vokasi," imbuh Dr. Lilis Widaningsih, S.Pd., M.T., sesama Peneliti di TVET RC dan Dosen di Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan UPI.

Dr. Lilis merujuk pada bergesernya mode belajar-mengajar tradisional menjadi versi digital, terjadinyapenggabungan media digital interaktif, terlibatnya guru dan murid dalam aplikasi-aplikasi belajar yang bersifat shared platforms, dan lahirnya konsep serta definisi baru pembelajaran. Penelitian ini juga menyebutkan bahwa pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, Vocational (STEAMV) dianggap sebagai pendekatan yang sesuai dalam pembelajaran vokasi masa depan. Ini karena pendekatan STEAMV dapat mendukung pembelajaran vokasi secara terpadu dan memperkuat 4 komponen kritis (4Cs) yaitu Creativity, Critical Thinking, Communication, and Collaboration.

Keduanya menyatakan bahwa kehadiran Covid-19 jelas mengantarkan ekosistem pendidikan vokasi kepada paradigma baru. Ini diharapkan dapat terinternalisasi ke dalam mentalitas institusi pendidikan dan menginspirasi visi pendidikan secara jangka panjang. Peningkatan Soft Skills Pendidik dan Kemerdekaan Belajar.

Sementara dari hasil penelitian kedua, Dr. Ana, M.Pd, Wakil Dekan Kemahasiswaan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan UPI mengatakan, "Perkembangan situasi saat ini menuntut penajaman prioritas kompetensi guru vokasi. Terutama untuk mendukung kemerdekaan murid dalam belajar."

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa guru di era merdeka belajar dituntut untuk mampu mengintegrasikan proses pembelajaran dengan teknologi, khususnya teknologi digital. Terutama karena pendidikan vokasi memiliki perbedaan yang signifikan dalam menyiapkan kompetensi lulusannya, sesuai kebutuhan dan permintaan industri.

"Oleh karenanya, kesiapan dan kompetensi guru vokasi juga perlu beriringan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang berkelanjutan. Guru vokasi saat ini, harus memiliki kompetensi sesuai dengan tuntutan global serta pergeseran industri yang cepat,"

Dr. Ana menambahkan. Penelitian yang dipimpinnya ini menghasilkan rekomendasi sejumlah prioritas kompetensi guru vokasi yang perlu diraih, yang disusun berdasarkan persepsi industri, pembuat kebijakan, guru dan dosen. Dr. Ana dan timnya membedah penelitiannya ke dalam empat kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang pendidik, yaitu; kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional.

Set kompetensi yang didambakan oleh para pemangku kepentingan berdasarkan prioritas di masing-masing aspek, antara lain; kemampuan untuk mengaktualisasi potensi peserta didik (92%), kemampuan berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun (100%); memiliki disiplin tinggi dalam proses pembelajaran (100%); serta, memiliki kepakaran di bidangnya (85%).

Dr. Ana menekankan, "Temuan kami membuktikan bahwa justru soft skills seperti keterampilan manajerial, kepemimpinan diri, serta sikap dan perilaku, yang dominan sebagai prioritas kebutuhan keterampilan yang harus dimiliki guru vokasi. Hasil ini merefleksikan bahwa upaya penyiapan lulusan berbanding lurus dengan kesiapan dan kompetensi yang dimiliki oleh guru vokasi itu sendiri."

TVET RC UPI mendorong Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk mengadopsi temuan-temuan ini agar dapat menyesuaikan program ajarnya masing-masing. Mengingat spektrum pendidikan vokasi sangat luas, maka TVET RC memiliki rencana kerja strategis untuk dapat mengeksplorasi dan memetakan berbagai isu TVET ke dalam kelompok-kelompok kajian/riset sehingga dapat disusun peta jalan (roadmap) penelitian dalam jangka panjang.

Selain itu, TVET RC membangun kemitraan dengan SMK dan industri, serta bebagai kelompok pemangku kepentingan terkait, termasuk pihak pembuat kebijakan, untuk memperkuat hasil kajian yang berkontribusi pada perbaikan mutu TVET di Indonesia. (Bis)

Berita diambil dari: https://min.co.id/11/12/2020/pendidikan/tvet-rc-upi-beberkan-revolusi-blended-learning-dan-pendekatan-merdeka-belajar/


Kembali