Ine Tri Indriyani : “Giat Belajar, Pantang Menyerah untuk Menggapai Impian”

Ine Tri Indriyani : “Giat Belajar, Pantang Menyerah untuk Menggapai Impian”

Oleh: Admin pada 15 Dec 2017

INE Tri Indriyani (22 tahun) atau dipanggil Ine lahir di Sukabumi 15 November 1995. Pertama ia mengikuti pendidikan formal di SDN Cibodas, kemudian melanjutkan pendidikan formal di SMPN 1 Cibadak, dan SMAN 1 Nagrak. Akhirnya ia melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Universitas Pendidikan Indonesia pada Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan. Terlahir sebagai anak kedua dari pasangan Mama dan Suminah yang merupakan keluarga sederhana membuat ia yakin bahwa untuk menggapai impian perlu doa, perjuangan dan kerja keras.

“Saya mempunyai harapan bahwa suatu saat saya harus bisa membahagiakan orang tua dengan menjadi kebanggaan mereka. Saya yakin bahwa jika seseorang mau giat belajar, terus mencoba dan pantang menyerah, pasti seseorang itu akan menggapai impian yang mereka cita-citakan,” kata Ine Tri Indriyani, S.Pd. wisudawan terbaik Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia (FPTK UPI) yang mengikuti Wisuda Gelombang III, 14 Desember 2017 di Gedung Gymnasium, Kampus UPI Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung.

Itulah sebabnya Ine selalu giat belajar untuk menggapai impian yang ia cita-citakan. Sejak sekolah di sekolah Dasar, ia selalu meraih ranking pertama di kelas. Hal ini diawali dari ketekunan kedua orang tuanya dalam mendidik terutama ibunya. Kebiasaan yang ditanamkan orang tuanya dimaksudkan agar ia selalu giat dalam belajar, mengerjakan setiap pekerjaan rumah saat pulang sekolah dan pantang menyerah jika menghadapi materi dan pekerjaan rumah yang sulit. Pola itu terus dilakukan sehingga menjadi kebiasaan hingga saat ini, yaitu tidak pernah menunda dalam mengerjakan tugas, selalu mencari sumber materi yang relevan dengan tugas jika menemukan tugas yang sulit, dan selalu mengerjakan tugas hingga selesai. Ine selalu mencatat materi pelajaran ketika pembelajaran di kelas, sehingga ia akan membaca kembali apa yang ada dalam catatan agar ilmu yang didapat selalu diingat.

Setelah lulus dari sekolah dasar, Ine melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Cibadak. Ine masuk ke dalam kelas unggulan. Prestasi Ine selama SMP naik turun. Ine masuk peringkat 3 besar di kelas, dan bahkan ketika peringkatnya turun Ine hanya masuk dalam 10 besar di kelas. Sehingga sebelum mengikuti  Ujian Nasional, Ine terus belajar dan terus latihan soal yang diberikan guru, hingga akhirnya dinyatakan “Lulus” pada Ujian Nasional dan meraih nilai Ujian Nasional Tertinggi kedua di sekolah, kemudian, ia pun masuk SMA.

Dikarenakan keterbatasan biaya, Ine tidak bisa melanjutkan ke sekolah favorit, ia melanjutkan ke SMA yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Ine melanjutkan ke SMAN 1 Nagrak. Walaupun Ine tidak sekolah di SMA favorit, namun ia tetap giat belajar, karena ia memang ingin sekolah. Kebanyakan di desa tempat ia tinggal, para orang tua enggan menyekolahkan anaknya sampai SMA. Sebagian besar anak hanya sekolah sampai SMP, bahkan sampai SD. Untuk itu, Ine bertekad untuk tetap melanjutkan sekolah dan membuktikan bahwa ia mampu menggapai impiannya nanti. Ine mengambil program Ilmu Pengetahuan Alam. Ia selalu menjadi juara umum dan dinyatakan sebagai siswa terbaik di program IPA dengan nilai tertinggi.

“Bagi saya, mendapatkan nilai yang bagus tidaklah mudah. Jika kita ingin meraih nilai bagus, tentunya kita harus giat belajar, jangan malas-malasan. Selalu kerjakan pekerjaan rumah di rumah, bukan ketika pagi-pagi di sekolah. Jika sulit kita bertanya kepada teman yang bisa dan mampu, jangan diam saja, atau bisa mencari sumber materi dan bahkan bertanya kepada guru,” ujar Ine.

Setelah lulus SMA, ine bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, keadaan ekonomi keluarga tidak mendukung. Dengan tekad yang kuat Ine terus mencari informasi beasiswa. Kemudian Ine mengikuti Ujian SNMPTN untuk masuk Perguruan Tinggi dan mengikuti beasiswa bidikmisi.

“Waktu saya lulus SMA, saya bertekad ingin kuliah. Orang tua saya bingung waktu itu, karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak bisa untuk membayar biaya kuliah. Akhirnya saya ikut SNMPTN dan ikut beasiswa bidikmisi. Jika saya lolos SNMPTN dan bidikmisi, saya akan lanjut kuliah. Alhamdulillah saya pun diterima di Universitas Pendidikan Indonesia pada Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan. Saya masuk kuliah pada tahun 2013 dan mengikuti segenap rangkaian Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum Universitas Pendidikan Indonesia (Mokaku UPI),” ujar Ine.

Bermula dari Mokaku, ia mulai mengenal mahasiswa lainnya. Proses perkuliahan dan bertemu dengan teman-teman memberikan keyakinan kepada Ine bahwa saat itu ia telah menjadi mahasiswa yang harus belajar tekun dengan menerapkan unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, Pengabdian).

Prinsip Ine saat berkuliah adalah mengikuti perkuliahan dengan baik, mengatur schedule untuk kegiatan sehari-hari, dan mengerjakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Prinsip tersebut selalu ia terapkan hingga ia selalu mendapatkan nilai tinggi pada setiap akhir semester perkuliahan.

“Saya selalu berusaha membuat planning dan mengatur schedule, agar waktu belajar, organisasi dan bermain tidak saling mengganggu. Saya bisa mendapat nilai yang tinggi, bisa organisasi dan saya juga bisa bermain berkumpul dengan teman-teman. Saya berusaha untuk selalu giat belajar untuk meraih nilai yang tinggi, karena saya mendapat beasiswa, jadi saya harus berterima kasih dan bersyukur bisa mendapat beasiswa dan kuliah.”

Selain mengikuti pendidikan secara teoritis di kelas, Ine juga mengikuti kegiatan organisasi. Kegiatan yang ia ikuti adalah Koperasi Mahasiswa (KOPMA). Ia menyadari dengan ikut kegiatan tersebut dapat menambah wawasan dan keterampilan terutama di bidang wirausaha.

Jika ditanya soal cita-cita, ia akan menjawab sebagai guru. “Sebagai sarjana pendidikan dan lulusan Universitas Pendidikan Indonesia saya harus mampu melahirkan orang luar biasa melalui kegiatan mendidik. Saya harus mampu mengaplikasikan apa yang telah saya pelajari, saya harus mampu mengembangkan pendidikan ke arah yang lebih baik,” ujar Ine.

Mendapatkan gelar sarjana pendidikan baginya menjadi tanggung jawab untuk mendedikasikan diri sebagai pendidik yang mampu menghasilkan generasi unggul yang mampu bersaing di masa yang akan datang. Gelar yang didapatkan juga berkat doa, dukungan dan kerja keras orang tua dan keluarga. Selain itu berkat dukungan orang terdekat dan para dosen yang selalu membimbing selama proses perkuliahan.

“Saya selalu bersyukur dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, saya mampu menyelesaikan studi di perguruan tinggi dan meraih gelar sarjana pendidikan. Tidak banyak yang dapat saya lakukan untuk membalas jasa orang-orang terdekat dan bapak/ibu dosen. Hanya ungkapan syukur dan terima kasih kepada Allah SWT karena telah mempertemukan saya dengan orang-orang luar bisa yang selau membimbing dan mengarahkan saya selama kuliah. Satu kalimat dari saya, Giat Belajar, Pantang Menyerah untuk Menggapai Impian.”