FPTK FPTK

Hasil Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Agroindustri dari Limbah Menjadi Barang Bermanfaat

Oleh: Yuyun Rohayati pada 15 Mar 2021

Sentra Emping yang terkenal berada di Limpung Kabupaten Batang, tapi ada juga rumah produksi emping asal Sumedang, Jawa Barat. Dalam 1 hari rumah produksi ini bisa mengolah 1 kuintal kulit melinjo. Stok melinjo hanya melimpah ketika panen tiba, sekitar bulan Juni sampai dengan bulan Agustus, sehingga agar produksi emping lancar, maka harus cukup stok bahan bakunya. 

Sangrai bijinya dahulu, biji yang baru kita kupas sebenarnya sudah bisa kita olah. Pengolahannya masih secara tradisional dan sederhana. Proses sangrai masih menggunakan pasir yang sudah bersih tentunya. Hal ini akan membuat panasnya merata dan biji melinjo lebih cepat matang. 

Biji yang telah kita sangrai masukkan kedalam kain, dan dibanting-banting, supaya kulit bagian dalamnya terkelupas dengan sendirinya. Biji yang telah lepas dari kulit, kita tumbuk dan diharuskeun ketika masih panas, agar kelihatan bagus ketika dipipihkan. Emping dengan ukuran kecil kecil terbuat dari satu biji menlinjo, tapi beda lagi dengan emping mentah yang ukurannya lebih besar, ada 4 sampai dengan 5 biji melinjo yang dipakai, biasanya emping ini yang dipakai hotel atau restoran. Emping lalu dijemur, apabila matahari terik maka memerlukan waktu sekitar 4 jam. 

Dalam 1 hari rumah produksi ini menghasilkan 75kg emping pedas manis, dan 50kg emping mentah, pengirimannya sudah mencapai seluruh Indonesia. 

Kulit melinjo seringnya berakhir menjadi limbah, padahal kulit melinjo bisa diolah jadi lauk sampai minuman segar yang menyehatkan. Olahan ini merupakan hasil karya dari mahasiswa Prodi Pendidikan Teknologi Agroindustri Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia, memanfaatkan kulit melinjo dari pengolahan emping yang biasanya jadi limbah. Pemanfaatan kulit melinjo dibuat menjadi Nugget dan Teh.  

Simak liputan selengkapnya di https://youtu.be/1Y-8qtCrBIU



Kembali

Rekognisi