Drs. KH. Zulkabir : Membangun Sivitas Akademika yang Religius

Drs. KH. Zulkabir : Membangun Sivitas Akademika yang Religius

Oleh: Admin pada 24 Jan 2017

Religius menjadi salah satu motto UPI sebagai kampus yang ilmiah, edukatif dan religius. Oleh karena itu, sudah selayaknya perilaku sivitas akademika UPI dilandasi sikap yang religius. Bagaimana membangun sivitas akademika yang religius?

Sivitas yang religius dapat terbangun setidaknya melalui tiga amalan yaitu amalan qolbu, amalan fisik dan amalan harta. Hal tersebut terungkap dalam kegiatan pengajian FPTK Jumat pagi, 20 Januari 2017 dengan narasumber Drs. KH. Zulkabir. Pengajian merupakan kegiatan rutin bulanan yang digagas FPTK sebagai salah satu upaya mengembangkan kultur kampus yang ilmiah, edukatif dan religius.

Amalan qolbu yang dimaksud adalah keimanan kepada Allah yang senantiasa menempatkan kesetiaan pertama kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Sivitas akademika yang senantiasa mendahulukan Allah akan mewujud menjadi sivitas taqwa yang memiliki hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan sesama manusia dan lingkungan sekitarnya. Amalan fisik yang dimaksud adalah solat, karena solat akan menjadi penolong orang-orang beriman (QS 2: 153).  Amalan harta yang dimaksud adalah infaq, sedekah, zakat.  “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS 2:261).

Keseharian sivitas akademika yang religius tak pernah luput dari tilawah Qur’an dan selalu menegakkan solat. Keseharian sivitas akademika yang religius selalu berlomba dalam mengerjakan amal saleh dan saling menasehati dalam mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran (QS. 103: 3). Keseharian sivitas akademika yang religius selalu terjaga lisannya. Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana kaum muslimin lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Sivitas akademika yang religius, yang dalam kesehariannya mengharuskan ia selalu berkomunikasi, akan selalu menjaga etika berkomunikasi sesuai dengan Al-Quran, yaitu: qoulan sadida (4:9), qaulan baligha (4: 63), qaulan ma’rufa (2: 235), qaulan karima (17: 23), qaulan layina (20: 44), qaulan maisura (17: 28).  Ketika ia berkomunikasi, hanya perkataan yang benar (sadida) yang akan disampaikannya, dengan menggunakan gaya bicara efektif, tepat (baligha) dan jelas. Ia pun hanya akan berkata-kata yang baik (ma’rufa), dengan perkataan mulia (karima) denga rasa hormat, bertatakrama, dan lemah lembut (layina). Ketika ia mengamalkan etika berkomunikasi sesuai dengan Al-Quran, maka akan menjadi ucapan yang mudah dipahami (maisura) oleh komunikan.

(Tim Kerohanian FPTK UPI)